Sabtu, 09 April 2016

BUTUH SAHABAT PLUS PLUS?



Doc. Pribadi



Buku itu layaknya seorang teman, kawan, atau sahabat, terserah kamu menyebutnya apa. Suatu ketika ia dapat membuatmu tertawa terpingkal, suatu saat lagi ia dapat membuatmu menitikkan air mata atau menangis tersedu. Dan hebatnya, di suatu ketika lagi ia dapat menjadi sosok yang menjelma seperti motivator yang dapat memompa semangatmu dan memberikan inspirasi.

Sama seperti orang-orang yang berada di sekeliling kita, yang menamakan diri mereka teman, kawan, atau sahabat. Semakin banyak kamu membaca buku, akan semakin banyak teman yang kamu punya. Tapi, semakin banyak temanmu, belum tentu semakin banyak pula buku yang kamu baca. Jadi, teman dan buku itu lebih penting yang mana? Hanya kamu sendiri yang bisa menilai dan memutuskan.
Awal aku jatuh cinta pada buku bukan karena aku tidak memiliki teman hingga akhirnya melarikan diri kepelukan buku-buku. Bukan. Tapi, karena aku membutuhkan sesuatu yang bisa selalu menemani dan memberikanku wawasan lebih. Kurasa, teman, kawan, atau sahabat, sehebat apapun mereka, bisa saja sewaktu-waktu tidak bisa hadir di sisi kita saat kita membutuhkannya. Tapi berbeda dengan buku. Kamu bisa terus bersamanya kalau kamu tidak meninggalkannya. Bandingkan dengan teman, kawan, atau sahabatmu. Mungkin mereka akan meninggalkamu juga saat kamu meninggalkan mereka.
Aku mulai menyadari memiliki ketertarikan dengan buku saat aku baru saja resmi menjadi siswi SMP. Aku hapal betul, sedari SD, aku tidak terlalu menyukai kegiatan membaca. Aku hanya membaca cerita-cerita pendek yang ada di buku pelajaran Bahasa Indonesia, itu pun karena ada illustrasi yang menarik. Selain itu, aku masih belum jatuh cinta pada buku, lagi pula saat itu, buku masih menjadi barang mahal bagi keluargaku.
Beranjak SMP, ada perasaan was-was bagaimana kalau aku akan tumbuh jadi remaja yang biasa saja. Sampai akhirnya, aku mulai mencari apa yang menjadi cita-citaku di masa depan. Aku mau merubah cita-cita lamaku yang kalau ditanya mau jadi apa, aku akan jawab dokter dan menyertakan alasan umum seperti, mau menyembuhkan orang-orang yang sakit. Sampai aku tiba di hari orangtuaku mengajakku pergi ke toko buku besar di sebuah mall. Aku menyadari satu hal, membaca bisa memperluas wawasan dan memberikan dampak positif lainnya. Kuambil satu buku dengan sampul yang menarik. Buku berjudul ‘Mengarang, Yuk!’ karya Renny Yaniar. Kubuka lembaran lebarnya dan menghirup aroma asing. Ya ampun, wangi buku baru sangat enak dan menenangkan. Berbeda dengan wangi halaman buku yang ada di perpustakaan SD-ku dulu. Kalau aku mencium lembarnya, aku pasti bisa bersin-bersin.
Mulai hari itu, aku jatuh cinta pada buku. Memang sih, buku yang kubeli merupakan buku cerita bergambar yang penuh illustrasi dan full color. Dan menurutku, ini merupakan cara efektif untuk membuat seorang anak menyukai kegiatan membaca. Perlahan-lahan, kalau anak sudah suka membaca, ia akan melahap buku apapun.
Untunglah, aku mendapatkan pengalaman pertama yang menyenangkan dan menginspirasi ketika telah selesai membaca buku bergambar itu. Walau aku iseng membacanya dari halaman akhir, hehehe, biar tahu akhirannya seperti apa. Dan, setelah membaca buku itu, aku mendapat pencerahan baru. Aku kagum dengan orang yang telah menuliskan kisah itu dengan sangat imajinatif. Dan, dari situlah, aku terinspirasi untuk menjadi penulis pula. Kuganti cita-cita awalku. Aku bercita-cita menjadi penulis, pengusaha dibidang kuliner, dan diplomat. Itu cita-citaku waktu aku SMP. Dan, aku mencoba membeli buku baru lagi setiap bulannya. Aku semakin ingin menjadi penulis ketika membaca buku yang bagus atau pun buku yang kurasa ceritanya kurang bagus. Hehehe. Kalau aku membaca buku yang endingnya tidak sesuai harapanku, aku jadi gregetan untuk menulis cerita fiksi dan membuat cerita sesuai dengan kemauanku. Dari membaca bukulah, aku bisa mencapai impianku, salah satunya memiliki novel solo. Alhamdulillah, itu semua telah terwujud di tahun 2014. Terhitung dari tahun 2009 aku baru menyukai kegiatan membaca.
Selain bisa menjadi penulis (yang awalnya dari suka membaca buku), aku juga merasakan dampak positif lainnya. Setidaknya, uapanku lebih berbobot, dan pemikiranku lebih matang. Aku juga tidak akan kehabisan bahan perbincangan kepada orang lain. Kalau aku bertemu dengan seseorang dari fakultas ekonomi, aku bisa membuka percakapan dengan sebuah isu yang lagi hangat. Walau aku bukan pakarnya, aku hanya mengetahui isu itu karena aku membaca. Yang terpenting, pertemananku lebih meluas karena aku suka membaca.
Para blogwalking yang budiman, hidup ini seperti dua sisi koin. Ya, intinya ada suka pasti ada duka. Gara-gara buku yang kubaca, aku pernah tidur di pagi hari karena penasaran dengan jalan ceritanya. Hal itu berakibat pada kesehatan. Paginya aku bangun dengan kepala pusing dan mata lengket (karena masih ngantuk, tapi tetap harus sekolah). Walau aku sering punya pengalaman baik ketika membaca buku (entah itu merasa tambah senang atau pun tambah termotivasi), aku juga pernah kehilangan buku-buku yang kumiliki. Memang ada beberapa teman yang meminjam lalu mengembalikannya dalam keadaan rusak kavernya karena terkena air hujan, atau pun sobek. Tapi, ada lagi yang lebih menyedihkan, setidaknya itu menurutku. 
Di Maret 2016 ini, aku dan kakak-kakakku harus merelakan beberapa buku koleksi kami yang sudah ditimbun dari 2009. Sebetulnya, berat sekali kalau harus melepaskan kawan baik kami itu. Mereka sudah lama sekali tinggal di rumah kami dan berbagi tempat tidur dengan kami (karena kadang kami memang suka membaca buku di tempat tidur menjelang tidur malam). Karena terpaksa, aku dan kakakku menjual buku-buku koleksi kami. Sekitar 100 judul buku lebih kami lepas. Aku mempromosikannya pada teman-teman dan juga mempostingnya di social media. Ada banyak yang membeli buku koleksiku dan kakak. Kami senang sekali, setidaknya uangnya bisa kami pakai untuk menutupi kebutuhan. Ya, kami harus menjual mereka karena ada sesuatu yang mendesak yang harus dibayar. Saat itu, keuangan keluarga kami memang sedang tidak stabil. 
Ya, setidaknya aku selalu menguatkan diri dengan berkata, buku-buku itu bisa terus bermanfaat untuk orang lain kalau aku tidak memendamnya di rumah terus menerus.
Buku yang telah kita baca akan menjadi bacaan baru untuk orang yang belum pernah membacanya. Mulailah membiasakan diri untuk membaca (baca buku yang penuh dengan gambar pun tak masalah!) dan kamu akan merasa cemas ketika dalam satu minggu tidak ada buku yang kamu baca. Pasti bikin kamu jadi ketagihan dan mendapat pengalaman baru!

NB: Lomba ini diikutsertakan dalam lomba menulis di blog Mukhofasalfikri.com dengan tema menulis pengalaman membaca.
  

0 komentar:

Posting Komentar